Kucing Diciptakan Agar Manusia Sadar Dia Bukan Tuhan ...


Saya mau ngobrol soal kucing lagi. Bukan, bukan soal Montok. Dia sedang asyik tidur. Saya mau bicara soal pemahaman yang mungkin kita juga ikuti. Saya bertemu dengan banyak orang yang mengagung-agungkan kedua binatang ini dan saling menjelekkan satu dengan yang lain.
Orang bilang anjing itu setia dan dia lambang dari karakter yang hangat serta penolong. Sahabat setia katanya. Dia patuh pada tuannya dan memikirkan kebaikan tuanya. Intinya anjing ini baik dan sahabat terbaik manusia. Di sisi lain orang juga menghujat anjing sebagai penjilat, bodoh, sukanya jadi kacung, dan kotor.
Kucing bagi yang suka katanya bersih, tahu berterimakasih, karakternya kuat, tidak suka menjilat, memberikan suasana tentram, dan memilki kekuatan gaib tertentu. Ada anggapan,  kalau kita menolong kucing saat susah maka di alam tertentu si kucing ini akan menolong kita. Ada kepercayaan juga kucing tidak bisa mati, dia punya banyak nyawa. Tapi kucing katanya juga culas, pendendam, hanya memikirkan diri sendiri, egois, dan bermental pembohong—tiba-tiba bisa mencakar walau kelihatanya sedang baik-baik saja.
Makin runyam lagi jika kemudian perkara binatang ini dikaitkan dengan agama. Seolah-olah binatang ini memiliki agama tertentu. Kalau Anda beriman maka Anda harus seperti anjing yang setia atau sebaliknya kalau Anda beriman dan bersih Anda harus seperti kucing. Di sini anjing dan kucing tiba-tiba menjadi hitam dan putih sifatnya. Salah satu adalah baik atau jelek tergantung pemahaman si individu.
Bisa Anda bayangkan jika persoalan ini masuk ke rumah ibadah. Orang sepertinya disamakan dengan anjing dan kucing. Begitu kesan saya. Kebaikan seseorang dan karakternya seolah otomatis sama dengan binatang apa yang dia sukai—dalam hal ini kucing atau anjing.
Berabad-abad kucing dan anjing sudah menjadi bagian dari manusia. Di tiap suku dan bangsa mereka mendapatkan perlakuan khusus yang berbeda-beda. Ada yang menjadikanya dewa dan ada yang menjadikanya binatang menjijikkan. Apakah dengan suka kucing kita juga setuju bahwa mereka adalah titisan dewa seperti di jaman Mesir? Atau kita juga setuju bahwa anjing adalah dewa juga seperti dipercayai oleh beberapa orang Indian? Atau ya sebatas binatang piaraan, kalau tidak suka ya kita tendang saja.
Bagi saya pribadi, Tuhan pasti menciptakan binatang ini untuk tujuan baik bukan untuk memisahkan atau menegaskan sang liyan. Bukan untuk membuat perbedaan. Kalau untuk membedakan apakah kita ini ya sama dengan anjing dan kucing? Keduanya pada hemat saya justru diciptakan untuk menjadi contoh dan menyadarkan kemanusiaan kita.
Pada anjing kita bisa belajar kesetiaan dan persahabatan. Kita menjadi manusia yang merasa dihargai dan merasakan kebanggaan karena ada yang patuh pada kita dan menjadi sahabat kita. Tapi jika kita terlalu terlena kita malah jadi Tuhan, merasa benar sendiri dan maunya dihormati dan celakanya meliaht orang lain seperti anjing : harus menurut pada saya karena itu yang terbaik. Nah kucing itu bagi saya mengingatkan bahwa kita ini bukan Tuhan, tidak semua bisa tunduk dan taat pada kita. Kucing memiliki karakter dan caranya sendiri dalam menentramkan sahabatnya manusia. Kucing bisa sangat mandiri dan mereka bisa sangat independen juga. Tapi mereka tidak culas menurut saya, mereka seperti binatang lain jujur dalam mengungkapkan insting mereka. Seringkali perilaku kita pada binatang-binatang ini bergantung pada mitos dan kepercayaan-kepercayaan yang bias seperti saya ungkap di atas. Hati-hati jika hal itu terjadi. Mungkin kita sudah mulai memisahkan dan memilah siapa musuh dan siapa kawan. Mungkin kita juga sedang bermain menjadi Tuhan.
Cara terbaik untuk merasakan dan membuktikanya adalah : pelihara binatang tersebut dan coba dekati. Kalaupun Anda tidak bisa mendekati jangan kemudian memakai mitos sebagai pembenaran. Karena kita dicakar anjing kemudian kita langsung mengklaim, anjing memang jahat seperti kata pak pendeta. Atau kucing memang jahat karena suka mencuri makanan seperti kata rohaniawan tertentu. Kalaupun ada klaim dari kitab suci soal keburukan binatang tertentu menurut saya itu bukan alasan untuk membencinya tapi justru sebagai sarana belajar. Ok lah memang ada binatang yang dilarang disentuh oleh ajaran tertentu, tapi setahu saya tidak ada ajaran untuk memusnahkanya secara masal. Bahkan pada bagian tertentu setahu saya ada perkecualian. Kehidupan itu lebih dipentingkan.
Weslah intinya mari bersahahabat dengan binatang dan mencoba menghayati bagaimana mereka hidup dan belajar dari mereka. Saya sepertinya memahami mengapa kucing kelihatan suka mengambil makanan seenaknya, mereka mandiri dan memang tidak menggantungkan diri pada satu tuan. Bagus  kan ini? Bukankah kita juga harus mandiri, kuat, dan berdiri pada kaki sendiri? Saya malah suka ini karena tidak perlu sibuk mencarikan makan tiap hari. Biarkan mereka berburu sendiri—kecuali kita memang membuat kucing itu jadi manja. Saya rasa kita bisa belajar banyak hal dari binatang-binatang ini jika kita mau terbuka pada berbagai penjelasan dan tidak terkungkung oleh stereotipe tertentu.

Comments